“Selalu Positif dan Tetaplah Kuat Karena Allah itu Dekat”
Duluuuuuuu, jaman masih masih SD kalau gak salah kelas 5 atau kelas 6.
Setelah pulang sekolah dan masuk ke halaman rumah ibu, aku lihat ada anak lelaki memakai seragam SMP, mungkin dia kelas 3 SMP sedang duduk di teras warung depan rumah ibu. Perawakannya kurus, badannya agak dekil, dan rambutnya hitam lurus. Matanya selalu tertuju ke rumah ibuku. Aku lihat di balik jendela dengan heran dan berkata dalam hati.
“Ngapain sih anak itu ? celingak celinguk seperti mengawasi rumah ini.. “ begitu bisikku dalam hati.
Tiba2 terdengar suara dibelakang aku, “Nak.. apa yang kamu lihat ? kok sepertinya sedang ngintip keluar ? “ ibu menyapa aku dan ikutan ngintip di balik jendela.
“Ohh akmu sedang lihat anak lelaki itu kah ? ibu tahu siapa dia… “ sela ibuku
“ Siapa itu bu ? “ tanyaku dengan cepat
“dia itu anak kampong sebelah, sedang menunggu dagangan permen dari warung itu. Anak itu membawa permen dari warung itu lalu dijualnya kembali setelah pulang sekolah” jawab ibu.
“Ohh begitu ? tapi kenapa dia selalu melihat kea rah rumah ini bu ? “ tanyaku sambil berlalu meninggalkan ibu menuju kamar untuk ganti baju.
“Wahhh, kalau itu ibu tidak tahu nak, sebaiknya kamu tanyakan saja sendiri” jawab ibu singkat sambil menuju meja makan untuk menyiapkan makan siang.
Begitu setiap hari aku lihat anak lelaki itu setiap pulang sekolah. Lama kelamaan aku jadi berfikir, “Apa sih yang dia cari di rumah ini ?” kataku dalam hati.
Suatu siang aku pulang agak terlambat, dan kulihat anak lelaki itu sedang membawa barang dagangannya keluar dari warung depan rumah. Tak kusangka dia menyapaku dengan ramah.
“ Kok baru pulang sekolah Neng ? terlambat dijemput ya ? apa ada sesuatu di sekolah ?” tanyanya dengan ramah.
“Ohh… iya kak, tadi aku acara lain di sekolah.” Jawabku singkat. Lalu aku masuk ke rumah dengan tergesa-gesa. “ ihhhh…. Ternyata anak lelaki itu sangat dekil dan bau badannya” gerutuku. Sehingga aku selalu menghindar cepat-cepat masuk ke rumah apabila ada anak itu duduk di depan teras warung itu.
Tahun berlalu hingga 10 tahun lamanya, aku sudah hampir lulus kuliah. Saat aku bersiap-siap untuk kembali ke kota lain tempat aku kuliah, ada seorang pemuda datang ke rumah dan langsung mencari aku. Bukan mencari ibuku terlebih dahulu. Aku tak kenal dengan pemuda ini.
“Maaf anda siapa ? rasanya saya belum kenal dengan Anda” tanyaku.
“Maaf sebelumnya, perkenalkan nama saya Andre, saya salah kakak sepupu dari Trias” jawabnya dengan sopan.
“Apakah adik akan kembali ke kota sore ini “ tanyanya.
“Iya, ada apa ya ?” jawabku singkat
“Begini, saya ingin menanyakan kepada adik ini, apakah adik mau menikah dengan sepupu saya Trias ?” tanyanya. Aku seperti disamber geledek disiang bolong, dan segera aku panggil ibu.
“Ohh ada tamu rupanya” ibu menjawab panggilanku.
Rupanya ibu tidak asing lagi dengan pemuda ini, dan langsung berbincang dengan akrabnya.
Lalu aku menyela perbincangan itu, dengan mengajukan maksud dari pertanyaan pemuda tadi ke aku.
Aku dengar ibu tertawa kecil. “ Bagaimana Nak ? apakah kamu terima lamarannya ?”
Aku bingung dan terdiam. “ Siapa itu Trias ibu ? saya tidak kenal dia. Bagaimana saya bisa menerima lamaran itu ?”
“Tenang nak, Trias itu anak yg baik, rajin beribadah, hormat kepada orang tua, dan sudah bekerja” ibu menjelaskan.
“Tapi kenapa kak Andre yang dating kesini bu ? kak ? bukan kak Trias ?kemana dia ?” tanyaku memerondong kepada ibu dan pemuda itu.
“Dia akan dating setelah tau jawaban kamu Nak” sahut ibu.
Dalam diam aku berfikir, aneh juga nih orang, mau melamar anak orang malah gak nongol batang idungnya. “ Ibu, kalau menurut ibu kak Trias itu adalah orang yg cocok menjadi imam aku, dan keluargaku kelak, aku terima bu” jawabku pasrah.
Tak dinyana, di luar cibiranku padanya, 10 tahun yang lalu, kemudian aku menikah dengannya. Ya dengan pemuda dekil dan bau badan yang dulu aku selalu menghidarnya.
Sesungguhnya memang kita tidak pernah tahu, bagaimana Allah akan mengatur hidup kita, akan berjalan ke mana hidup kita ini.
Selalu banyak-banyak memohon ketetapan yang baik akan kehidupan kita, tetap husnudhon dan tetap semangat menjalani hari yang silih berganti dengan keadaan yang fluktuatif.
Semoga keberkahan senantiasa tercurah dalam setiap waktu yang bergulir.
Selalu positif dan tetaplah kuat karena Allah itu dekat.





