“Cinta Dalam Secangkir Kopi”


Jam dinding menunjukan pukul 4 pagi. Safira segera beranjak dari tempat tidur. kamarnya masih gelap. Lamat-lamat dilihatnya Bagas masih terlelap dalam mimpi. Shafirapun berjalan keluar kamar dan memulai kegiatannya sebagai seorang ibu rumah tangga.

 

“Mama, nanti aku mau diantar Mama ya ke sekolah,” pinta Aulika, putri semata wayangnya.

 “Ya, Mama antar pagi ini. Tapi Aul harus segera bersiap-siap ya, supaya gak terlambat. Soalnya Mama kalau nyetir gak bisa ngebut,” sahut Safira dengan muka ceria.

                                                                                                                                                                                                               

Seketika senyum mengembang dari bibir mungil anak kesayangannya itu.

 

Secangkir kopi sudah tersaji di atas meja dan tak lupa terselip secarik kertas di bawahnya dengan tulisan yang indah.

 

[Pagi Cinta, senyumku tidak sepahit kopi ini, lho]

 

“Ma, ini kopi rasa baru?” tanya Bagas sambil menyeruput cangkirnya.

 

“Iya, kemaren ada promo kopi baru di supermarket, ” jawab Safira dengan senyum. “Enak gak?”

 

“Oh, enak , meski tanpa gula,” sahut Bagas sambil meletakkan cangkirnya di meja. Segera dia melangkah ke ruang tamu untuk bersiap-siap berangkat ke kantor

 

“Mas, aku jalan dulu ya,” kata Safira kepada Bagas sambil bersalaman khas pasangan suami istri. Disusul oleh Aulika berpamitan pada Papanya.

 

Bagas segera mengambil tas hitam yang tergeletak di kursi dan bergegas  menuju mobil. Kemudian, dipacunya mobil tersebut menembus jalanan yang padat menuju kantor.

 

****

 

Tiga tahun berlalu, Safira masih menyimpan rasa yang tak nyaman pada kepalanya. Namun, dia berusaha bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Setiap pagi dia menyiapkan secangkir kopi untuk suaminya. Tak lupa secarik kertas kecil warna kuning  lengkap dengan pesan romantis selalu ia selipkan di bawah cangkirnya. 

 

Hingga suatu siang, dia merasakan kepalanya sangat pusing dan tak lama tubuhnya jatuh di lantai. Beruntung ada tetangga yang mengetahui kondisi Safira dan segera membawanya ke rumah sakit yang tak jauh dari rumah mereka.

 

“Ibu sudah siuman ….” kata suster kepada Safira.

“Apa yang terjadi? Aku dimana?” tanya Safira kepada suster.

“Ibu ada di rumah sakit, tadi Ibu dibawa kesini dalam kondisi pingsan,” jawab suster.

 

Terlihat Bagas berdiri di balik pintu berbicara dengan Dokter. Tak sadar, air matanya meleleh dan bibirnya gemetar. Bagas berjalan mendekati Safira sambil berkata, ”Mama sudah boleh pulang sekarang.“

 

“Alhamdullilah,” sahut Safira lemah.

 

Setelah Bagas selesai mengurus administrasi rumah sakit, mereka segera meluncur pulang ke rumah.

 

“Apa yang terjadi denganku mas? Apa kata dokter? Kenapa mataku menjadi kabur begini?” tanya Safira.

“Sayang, kamu harus sabar ya … Dokter bilang ada sedikit masalah dengan syaraf di kepala,” jawab suaminya. “Kamu tenang aja, gak usah banyak pikiran.”

 

Sesampai di rumah, terlihat senyum Aulika yang sejak tadi menunggu mamanya pulang dari rumah sakit.

“Mama …!” teriak Aulika sambil berlari memeluk mamanya.

 

Safira menyambut pelukan hangat Aulika, dan tiba-tiba dia merasakan sakit yang hebat di kepalanya. Seketika dia jatuh pingsan kembali. Sang suami kembali membawanya ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.

 

 “Ini cukup serius, kemungkinan besar bisa menyebabkan kebutaan,” Dokter menjelaskan.

 “Beliau sangat membutuhkan dukungan seluruh keluarga.”

 

****

 

Gelap tanpa cahaya, begitulah hari-hari yang dirasakan oleh Safira. Terkadang dia merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya. Hal itu membuat Safira sangat sensitif dan sering murung.

 

“Aku sudah tidak berguna! Aku benci semua ini!” teriak Safira mengutuk kebutaanya seraya tanganya mengusap kedua matanya.

 

Bagas memegang erat tangan Safira, lalu dipeluknya dengan lembut . “Sayang, kamu adalah istri dan ibu yang luar biasa. Kamu harus semangat demi Aulika. Kamu ibu yang hebat.”

 

“Mas, aku hanya membebankan kalian. Mengurus diri sendri saja aku tak bisa,” kata Safira lirih tersedu.

 

Perlahan Bagas membimbing Safira untuk menghafal jalan dalam rumahnya. Dengan sabar dia mengurus semua kebutuhan Safira. Mulai dari menyiapkan makanan, memandikan, mencuci rambut, menyisir, hingga berpakaian.  Tak jarang dia juga memulas makeup ke wajah Safira. Semua itu dia lakukan demi mengembalikan gairah dan semangat Safira.

 

Hari berganti bulan, tanpa mengenal lelah dan keluh kesah, dia berikan perhatian dan cinta dengan tulus hingga perlahan Safira bisa menerima keadaannya.  Kini Safira sudah bisa mengurus diri sendiri dan senyumnya kembali menghiasi wajah bulatnya.

 

***

Setiap pagi Safira berjalan menuju dapur. Dengan cekatan dia raih toples berisi kopi dan cangkir yang berada di rak sebelahnya. Dalam sekejap, secangir kopi panas telah tersaji di depannya. Tak lupa diambil secarik kertas dari atas despenser dan dituliskan kalimat dengan penuh cinta. Kemudian diselipkan di bawah cangkir.

 

Bagas selalu membacanya dengan senyum, meski tulisan itu tumpang tindih satu sama lain. Dia peluk Safira dengan lembut, lalu dikecup kening istrinya seusai membaca kertas itu. Selanjutnya, kertas tersebut dimasukkan ke dalam saku tasnya.

 

****

 

Pagi itu, Safira berjalan sedikit limbung karena menahan sakit di kepalanya. Tetapi dia berusaha untuk melakukan tugasnya dengan tegar. Membuat secangkir kopi dan pesan romantis untuk suaminya.

 

Dan seperti biasanya, usai menikmati secangkir kopi dan membaca tulisan Safira, Bagas bergegas menuju mobil hendak ke kantor. Tapi tiba-tiba terdengar suara cukup keras.

 

 Prang … Tring … Krompyang ….

 

Segera Bagas berbalik arah dan berlari menuju arah suara itu.

“Safira …!” teriak Bagas.

 

Safira jatuh tergeletak di lantai. Darah segar mengalir dari hidung dan telinganya. Badannya sedingin es dan mukanya agak biru. Bagas segera membawanya ke rumah sakit.

 

“Apakah Anda keluarga Ibu Safira?” tanya dokter saat keluar dari kamar IGD.

“Betul Dok, bagaimana kondisi istri saya?” jawab Bagas.

 “Mohon maaf, istri Bapak sudah menghadap Tuhan. Yang sabar ya Pak,” jawab dokter dengan wajah sedih.

 

Bagas tertunduk lesu, seketika butiran bening mengalir deras membasahi pipinya. Segera dia melangkah ke dalam kamar IGD untuk melihat jenazah istri tercintanya. Hati Bagas patah, badan gemetar seakan kakinya ngambang. Tak kuasa dia menahan luapan emosi yang berkecamuk dalam jiwanya.

 

Tak sadar, tangannya merogoh saku tas hitam yang masih tersampir di pundaknya. Bagas menggenggam tumpukan kertas kecil dengan pesan-pesan yang ditulis Safira. Seketika bayangan senyum Safira menghiasi tumpukan kertas itu.

 

[Cintaku selalu bersamamu hingga ujung hidupku]

 

“Mama, semoga Tuhan mengampuni semua kesalahanmu, menerima semua amal baikmu dan memberikan tempat terbaik untukmu.” Sebait doa terucap lirih dari bibirnya.

 

by:ichan`19

BACA JUGA

Cinta Dalam Secangkir Kopi

Jam dinding menunjukan pukul 4 pagi. Safira segera beranjak dari tempat tidur. kamarnya masih gelap. Lamat-lamat dilihatnya Bagas masih terlelap dalam mimpi.

Aku Juga Cantik

Jam dinding menunjukan tep.at pukul 10.00. Kayla masih sibuk di depan cermin sambil meneliti setiap detail tampilan tubuhnya.

Pasir dan Batu

Kita harus bisa memaafkan kesalahan orang, dan melupakannya. tetapi ingatlah kebaikannya.

Hattim dan Kuda kesayangannya

Kedermawannan seorang Hattim ( disarikan dari kisah Thabiin)

Terpaksa

  Percakapan pencuri dan polisi